Dulu, waktu masih remaja atau baru mulai merintis hidup, aku punya impian sederhana: kalau sudah punya uang sendiri nanti, aku mau beli konsol game impian dan TV yang bagus.

Tahun-tahun berlalu, aku akhirnya mencapainya. Kotak konsol itu dibawa pulang, kabel-kabel dipasang rapi di depan televisi. Untuk sesaat, ada kepuasan masa kecil yang terbayar lunas.

Namun setahun atau dua tahun kemudian, pemandangan itu berubah. Konsol tersebut lebih sering diam, mematung di samping layar TV yang gelap. Sesekali aku mencoba menyalakannya, melihat deretan judul game di layar utama, namun tanganku enggan menekan tombol start. Rasanya seperti menyapa teman lama yang sudah tidak punya bahan obrolan.

Hanya ada rasa hampa yang membingungkan. Mengapa hal yang dulu bisa membuatku lupa waktu, sekarang terasa begitu datar?

Anehnya, rasa hampa ini tidak hanya soal game. Kadang ia muncul saat menatap rak buku yang tidak lagi kubuka, alat musik yang berdebu di sudut kamar, atau sepatu lari yang sudah lama tidak kupakai. Polanya sama: hal yang dulu kukejar dengan antusias, kini hanya menjadi pajangan yang diam-diam membuatku merasa bersalah.

Saat hiburan berubah menjadi beban energi

Ketika masih muda, ruang kepala kita masih lapang. Kita belum memikirkan cicilan, politik kantor, urusan keluarga, atau ketidakpastian masa depan. Game adalah taman bermain tempat imajinasi kita melompat bebas.

Tapi di usia dewasa, energi berpikir kita terkuras habis sebelum matahari terbenam. Seharian penuh, otak kita dipaksa mengambil keputusan, menahan emosi, dan memecahkan masalah.

Tanpa kita sadari, bermain game sebenarnya membutuhkan energi yang besar: fokus, konsentrasi, koordinasi tangan dan mata, serta keterlibatan mental. Ketika kita sudah lelah luar dalam, bermain game tidak lagi terasa sebagai istirahat — ia terasa seperti “tugas baru” yang menuntut tenaga yang sudah tidak kita miliki.

Akhirnya, aku hanya menatap layar beberapa menit, merasa lelah, lalu mematikannya kembali.

Lucunya, aku malah beralih ke hiburan yang lebih pasif: scroll video pendek berjam-jam tanpa benar-benar menikmatinya. Itu bukan karena video pendek lebih seru — tapi karena ia tidak menuntut apa pun. Tidak perlu fokus, tidak perlu menang, tidak perlu membuat keputusan. Di tengah kelelahan, yang kucari bukan keseruan, melainkan sesuatu yang tidak meminta energi.

Yang kurindukan bukan sekadar gamenya

Kalau dipikir-pikir, membeli konsol di usia dewasa sering kali bukan semata-mata soal ingin bermain game. Itu adalah upayaku untuk “membeli kembali” potongan diriku yang dulu: diri yang ceria, bebas dari kecemasan, dan mampu merasa bersemangat tanpa syarat.

Kekecewaan muncul ketika aku menyadari bahwa barang fisik tidak bisa mengembalikan keadaan mental masa lalu.

Melihat konsol yang jarang tersentuh sering menimbulkan rasa bersalah yang aneh: “Aku sudah beli mahal-mahal, kenapa tidak kunikmati? Kenapa aku sekarang jadi orang yang membosankan?”

Berdamai dengan musim hidup yang berganti

Kehilangan minat pada hal yang bertahun-tahun kusukai memang terasa menakutkan, seolah ada bagian dari diriku yang mati perlahan. Namun, mungkin ada cara lain untuk memandangnya — bukan sebagai kerusakan, melainkan sebagai pergantian musim.

Dulu aku mengukur hidup dari seberapa seru akhir pekanku. Sekarang ukurannya bergeser: tidur cukup tanpa terbangun jam 3 pagi, makan tanpa terburu-buru, satu sore tanpa notifikasi. Itu bukan kemunduran — itu prioritas yang berubah karena hidupnya berubah. Dan mungkin nanti, di musim yang lain, aku akan kembali menyalakannya dengan antusias yang baru.

Kalau bukan game, lalu apa?

Mungkin pertanyaannya bukan “kenapa aku tidak suka game lagi?”, melainkan “apa yang sebenarnya kubutuhkan saat ini?”

Jawabannya sering bukan hiburan yang lebih seru, melainkan istirahat yang lebih jujur. Dulu game mengisi kekosongan waktu luang yang melimpah. Sekarang waktu luang itu sendiri yang langka — dan ketika akhirnya ada, tubuh kita memilih rebahan bukan karena malas, melainkan karena itulah yang paling dibutuhkan.

Bukan berarti konsolnya harus dijual atau hobinya dikubur. Beberapa orang menemukan jalan tengah: main 20 menit tanpa target menamatkan, main bareng teman lama sambil ngobrol (yang dirindukan ternyata kebersamaannya, bukan gamenya), atau sekadar membiarkan konsol itu ada di sana tanpa rasa bersalah — sebagai pengingat bahwa kamu pernah memperjuangkan sesuatu dan berhasil mendapatkannya.

Hobi boleh berganti bentuk. Yang tidak boleh hilang adalah izin untuk menikmati waktu luang tanpa merasa berutang pada siapa pun — termasuk pada dirimu yang dulu.

Kita terus bertumbuh dan berganti musim. Wajar jika hal-hal yang dulu membuat kita bahagia kini terasa sunyi. Jangan memarahi diri yang sekarang hanya karena kita tidak lagi sama dengan diri yang dulu. Kita hanya butuh ruang untuk bernapas.